Seorang Sefriyana Khairil, yang akrab disapa Sefri, memulai hobi menulisnya pada saat SMP. Sampai saat ini telah menerbitkan sembilan buku melalui berbagai penerbit.

Mbak Sefri telah mengupas pengalaman dan ilmunya tentang Proses Kreatif dalam Menulis Fiksi di acara Nulis Buku Club Chapter 3 di Pisa Café tanggal 31 Maret 2011. Yuk, kita simak, semoga bermanfaat dan menjadikan kita lebih kreatif 

Awal proses kreatif adalah ide dan dapat diambil dari mana pun. Ide adalah kunci dan nyawa dari tulisan kita. Kemudian kembangkanlah ide dengan cara pengendapan ide dan melakukan riset. Hal ini penting agar tulisan kita lebih ‘berisi’ dan tidak terkesan asal tulis. Ketika kita melakukan riset, di saat itu pula kita sedang belajar berbagai hal yang baru.

Inilah langkah-langkah untuk riset:

  1. Wawancara
  2. Mencari data di internet
  3. Membaca buku
  4. Menonton film (dan mbak Sefri bisa menonton hingga sepuluh judul sehari lho!)
  5. Terjun langsung ke daerah yang akan dijadikan setting cerita kita.

Kemudian kita membuat penamaan tokoh. Hal ini penting karena tokoh adalah tanda pengenal sebuah karya. Nama tokoh membantu kita membuat karakter.

Ada tiga tips untuk penamaan tokoh:

  1. Buka buku / googling untuk mencari arti nama tersebut.
  2. Jangan memberi nama dan karakter yang sama untuk novel yang berbeda.
  3. Jangan memakai nama yang bisa dipakai oleh pria maupun wanita.

Jangan lupa untuk membuat outline/ kerangka cerita karena akan membantu pengarang untuk menulis, seperti layaknya panduan.

Ada tiga unsur outline, yaitu konflik, opening, dan ending. Ingatlah bahwa konflik utama harus sudah ditentukan karena inilah yang akan membangun dan menjalankan cerita.

Sebuah konflik akan memancing banyak pertanyaan yang akan menentukan pembukaan dan penutup cerita.

Usahakan untuk membuka cerita dengan kalimat yang menarik dan pancinglah minat pembaca mulai dari paragraf awal. Buatlah dialog untuk menghidupkan emosi antar tokoh.

Nah, ada tips pembukaan cerita yang bisa dicontek di sini:

  1. Coba buka kembali novel kesayanganmu.
  2. Jangan bertele-tele.
  3. Buat pembaca merasa nyaman dari awal. Jangan tunggu mereka bosan dan meletakkan ceritamu.

Setelah itu, buatlah ending yang akan membantu dalam menulis dan menentukan solusi untuk menutup cerita. Ending dibuat saat menulis outline karena membantu kita menyelesaikan cerita agar tidak melebar.

Oia, jangan sampai tertukar antara kerangka adegan dengan kerangka cerita. Kerangka cerita berisi adegan yang kita tulis dari awal sampai akhir.

Buatlah latar yang hidup, seolah kita berada di kejadian itu. Gunakan semua panca indera, terlepas nyata atau tidaknya yang kamu tulis itu.

Jangan lupa untuk membuat ‘chemistry’ untuk memperkaya emosi di ceritamu. Ada empat poin penting di sini:

  1. Buatlah karakter yang bertolak belakang atau saling membutuhkan, Contoh adalah Tom and Jerry.
  2. Pikirkan konflik bila mereka bertemu.
  3. Pikirkan apa yang membuat mereka dekat.
  4. Pikirkan apa yang membuat mereka saling tertarik.

Nah, mulailah menulis! Tak perlu memikirkan kalimat / typo saat menulis. Biarkan saat self-editing nanti baru dirapikan. Libatkan emosimu karena akan berpengaruh pada emosi pembaca.

Self-editing diperlukan untuk memperbaiki tulisan. Editor terbaik adalah penulisnya sendiri. Jangan pernah takut untuk membuang adegan yang tidak perlu.

Demikianlah ilmu dari Mbak Sefry. Semoga semakin banyak penulis yang berani menuangkan idenya dan menjadikannya salah satu karya terbaik Indonesia. Amin!

Salam!

@andiana