Akhirnya NBC mengadakan pertemuan lagi di Pisa Café Mahakam. Menampung segala masukan agar NBC diadakan pada hari Sabtu, maka untuk pertama kalinya NBC mengadakan pertemuan di akhir pekan 
Dimoderasi oleh mas Teddy Andika, acara rutin ini dihadiri oleh Mas Oka, Mbak Ollie, Mas Ega, dan ternyata ruangan dipenuhi oleh lebih dari tigapuluh orang. Ramai sekali!


Pada NBC kali ini, ada mbak Sita Sidharta (@agatogata) yang berbagi pengalaman “Writing In English”. Mbak Sita mengatakan bahwa tak ada ide yang benar-benar baru. Tetapi kita bisa membuat suatu cerita menjadi lebih segar dengan konflik yang dibangun di dalamnya.
“All drama is conflict. Without conflict, you have no action; without action, you have no character.” — Syd Field, Screenplay
Define the need of your character. Show. Not tell. Pada dasarnya, menulis dalam bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia sama saja. Tetapi bila memilih untuk menulis dalam bahasa Inggris, konsisten dalam penulisannya. Apakah ditulis dalam British English atau American English. Jangan ditulis dengan mencampurnya kecuali bila hendak menceritakan orang Inggris dan orang Amerika dalam satu cerita.

Bagaimana cara agar tulisan lebih berviariasi? Mbak Sita menegaskan bahwa kita mau tak mau harus banyak membaca dan menonton film berbahasa Inggris. Tak lupa untuk banyak membuka kamus untuk mencari arti dan maksud dari kata yang dipakai.
Menulisnya lebih enak pakai Bahasa Indonesia dahulu atau langsung berbahasa Inggris? Mbak Sita menjawab agar kita sebaiknya langsung menulis dalam Bahasa Inggris agar tak kehilangan makna.
Setelah penuturan dari Mbak Sita, yang hadir pada NBC4 disuguhi prosa dari Andi Gunawan (@ndigun) berjudul “Dalam Sebuah Ruang Asing”. Hm, ruangan tetiba senyap.


Kemudian, mas Jed Revolutia (@revolutia) berbagi pengalamannya seputar buku motivasi psikologinya yang berjudul “You’re LIKEable”.
Mas Jed mengatakan bahwa ketika kita sedang menulis, kita harus memikirkan tentang pembaca. Perhatikan yang menjadi tren penulisan sekarang, yaitu pengalaman / cerita terlebih dahulu baru masuk ke poin yang akan kita sampaikan. Jangan sampai pembaca merasa digurui.
Laku atau tidak sebuah buku, menurut Mas Jed, dimulai dari bab pertama. Setelah selesai menulis semuanya, sebelum diterbitkan, cobalah untuk diperlihatkan kepada lima orang untuk dinilai. Selalu lakukan revisi sampai ada rasa bahwa tulisan kita pantas di-share dan ada ‘wow factor’ (membuat pembaca terkesima dan kagum).
Mas Jed juga membeberkan tentang masa lalunya yang ada di bukunya. “It’s about growing up”/ Ada yang bisa kita ubah dan ada yang tidak.
Masa lalu tak bisa kita ubah, tetapi kita bisa mengubah masa depan. Dan itu tergantung masa sekarang.
Tentu saja, pengalaman Mas Jed mendapat perhatian dari peserta NBC sore itu. Sungguh menginspirasi!
Ketika Mbak Ollie bertanya tentang motivasi menulis kepada semua yang hadir, ada tiga poin yang dapat dirangkum: karena uang, untuk berbagi, dan agar pikiran tetap waras /  sadar.
Nah, sekarang apa motivasimu dalam menulis? Let’s share and publish your dream!
Salam,
Andiana.