Prolog adalah bagian dari novel yang terjadi sebelum awal dari cerita novel itu sendiri. Prolog bisa terdiri dari beberapa baris, sampai sepanjang satu chapter atau bab. Prolog seringkali digunakan untuk memberi informasi pada pembaca mengenai event yang terjadi sebelum cerita atau kehidupan karakter.

Sebuah prolog juga bisa menjadi penyedia latar belakang, mengungkap bagaimana karakter bisa berada ada dalam situasi sekarang. Prolog juga bisa berfungsi untuk memperkenalkan cerita atau membangun tone cerita. Dan, tentu saja, seorang penulis bisa menyampaikan seluruh informasi di atas tanpa harus membuat sebuah prolog.

Hal tersebut sering membuat bingung seorang penulis, dengan prolog atau tanpa prolog. Saat hendak menyusun prolog, coba kamu tanyakan pada dirimu beberapa pertanyaan ini:

  1. Jika pembaca tidak membaca prolog, apakah dia masih akan menikmati dan mengerti ceritamu?
  2. Bisakah informasi di prolog diletakkan dalam cerita utama, melalui dialog, tindakan, atau pikiran karakter?
  3. Apakah prologmu terlalu lambat dan lebih cocok sebagai pembuka cerita yang sebenarnya?
  4. Apakah prologmu akan mengurangi nilai penting atau malah mengalihkan perhatian dari pembuka cerita yang sebenarnya?

Gunakan prolog untuk memberikan informasi yang sulit ditempatkan di lokasi lain dalam cerita. Tapi, usahakan agar prologmu tidak hanya berisi sampah informasi. Pastikan informasi yang kamu bagi di prolog punya fungsi dan peran bagi karakter dan plot. Serta, jaga prologmu agar tetap singkat dan jelas.

Hindari membuat prolog jika akan menghambat ceritamu dan membagi perhatian pembaca. Jika kamu hanya ingin memancing perhatian pembaca membangun mood, kamu bisa melakukannya di bab 1, tidak perlu menggunakan prolog.

Tentu saja tetap kamu boleh memasukkan prolog dalam ceritamu. Itu adalah hakmu sebagai penulis cerita. Tapi pastikan prolog tersebut penting untuk cerita dan punya tujuan yang jelas.

(Sumber: thewritingplace, warriorwriters)